Bersama Hujan [Part 1] #149

Banyak orang menyukai hujan. Terlebih saat angin mulai berhembus dan tetes demi tetes air hujan mulai menyentuh tanah. Aromanya khas, membangkitkan kesyahduan para penyair hingga lantas menuliskannya dalam sajak-sajak yang menyihir para penikmatnya. Tentu, jika saat itu kita tengah berleha-leha di rumah, menikmati secangkir kopi panas atau barangkali teh hangat, maka kesyahduan pun menjadi nyata.

Lain halnya jika saat itu kita tengah berjalan setengah terburu. Entah dari bangku-bangku kuliah, meja-meja perkantoran, atau kelas-kelas berhiaskan papan tulis penuh coretan tugas: jam pelajaran baru saja berakhir. Barangkali saat itu menjadi mudah bagi manusia untuk merutuki nasibnya. Lupa membawa jas hujan. Lupa membawa payung. Sepatu yang tinggal satu-satunya. Kemudian entah apa lagi yang dirutukinya. Sebagian memilih tinggal di kantin, makan dengan tenang, barangkali menikmati semangkuk bakso hangat hingga kesyahduan pun menjadi nyata. Sebagian lainnya memilih berlarian di tengah hujan, memakai entah tas atau jas laboratoriumnya sebagai tameng.

Jika orang lain sibuk merutuki nasibnya, lain halnya dengan Riani. Ia sibuk mencari jalan berbatu. Alasannya sederhana, terakhir kali ia terpeleset begitu melewati jalan mulus dipenuhi lumut. Pelan-pelan ia berjalan, sesekali berjinjit. Meski itu bukan sepatu terakhirnya yang kering, tapi air akan membuat sepatunya pensiun lebih awal. Seharusnya ia membawa sandal. Tuh kan, bahkan Riani pun tak luput merutuki dirinya sendiri.

Setidaknya jumlah rutukan Riani sedikit berkurang. Lupa payung? Ibu selalu mengingatkannya untuk membawa payung di dalam tas. Lupa jas hujan? Lagi-lagi Ibu tak pernah lupa berteriak padanya tepat sebelum ia berangkat, “Jangan lupa bawa mantol, Riani!” Apalagi jika musim hujan atau cuaca mendung. Malah sesekali, “Langsung pakai mantolnya aja, Riani.” Padahal hujannya rintik-rintik saja.

Sesekali saat hujan deras, hati Riani harap-harap cemas. Harap-harap supaya hujan cepat reda, cemas karena katanya tidak boleh mengeluh jika hujan turun. Sesekali saat hujan mereda, bahkan terkadang cuaca cerah seketika, hati Riani bersyukur sekaligus bimbang. Bersyukur karena barangkali baju atau sepatunya tak menjadi lebih basah, kemudian bimbang apakah ia harus melepas mantolnya atau tidak. Lebih sering, ia tak melepas mantolnya. Hitung-hitung mengeringkan mantol sembari menepis dinginnya malam yang kadang menyusup masuk di sela jaket tebalnya.

Akhir-akhir ini hujan deras beberapa kali mengguyur kota. Sesekali petir dan kilat menyambar di tengah butiran-butiran air yang berjatuhan dan diterbangkan angin. Dulu sekali, Riani ingat, cuaca mirip seperti ini dan banyak pohon tumbang di tengah jalan. Riani bergidik ngeri. Hujan terakhir kali bahkan sampai menimbulkan banjir pertama kali dalam sejarah kota ini. Dalam situasi seperti ini, Riani lebih sering menerima keadaan. “Hujan, mari kita bersenang-senang,” begitu ujarnya dalam hati. Maka baju atau sepatu tak lagi mengganggu pikirannya.

Jika Riani bersenang-senang, menikmati butiran hujan yang jatuh dari langit, sambil sesekali memicingkan mata karena jarak pandang yang tak begitu jauh, lain halnya dengan Ibu. Demi melihat mendung berarak yang menghitam, suara petir dan kilat yang menyambar, hati Ibu harap-harap cemas menanti kepulangan putrinya. Lantunan do’a tak pernah putus dari bibirnya. Semoga Riani pulang sebelum hujan bertambah deras. Semoga jalan yang dilewati Riani kebetulan sedang reda. Semoga angin tidak terlalu kencang, sehingga Riani bisa pulang dengan selamat. Semoga dan semoga lainnya. Riani dan Riani lagi. Ah, betapa cemasnya ia. Sementara Riani senang-senang saja di ujung sana. Ah, betapa tak tahunya dirinya.

Bersama hujan ada sajak-sajak yang terekam. Bersama hujan ada kesyahduan dalam setiap hirupan napas. Bersama hujan ada banyak rutukan manusia di sana-sini. Bersama hujan, petani bersuka ria karena sawahnya terairi. Bersama hujan, pepohonan tak kalah senang mendapatkan karunia dari Sang Pencipta. Bersama hujan, ada jinjit sepatu Riani, ada Riani yang bersenang-senang, dan ada do’a-do’a Ibu. Do’a yang tak pernah putus. Do’a yang langsung menembus langit. Menggerakkan mendung hitam itu sedemikian rupa. Ah, sungguh betapa Riani harus pandai bersyukur. Bersama hujan, tapi tanpa do’a Ibu, apalah jadinya ia.

*Tulisan ini merupakan bagian dari project khusus kumpulan cerita ‘Riani, It’s Rainy’. Nantikan kelanjutan ceritanya 🙂

Iklan

6 respons untuk ‘Bersama Hujan [Part 1] #149

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s