Pelajaran Hidup: Tidak Semua Orang di Dunia ini Baik #239

Pelajaran hidup seringkali hadir melalui peristiwa yang tidak menyenangkan. Akan tetapi, kita dapat menganalisis banyak hal melalui peristiwa tidak menyenangkan tersebut. Analisis yang dapat dijadikan pembelajaran di kemudian hari.

Salah satunya adalah pelajaran hidup tentang “tidak semua orang di dunia ini baik”.

Lanjutkan membaca “Pelajaran Hidup: Tidak Semua Orang di Dunia ini Baik #239”

Memanen Padi #235

Tulisan ini dibuat untuk memberikan apresiasi kepada para petani Indonesia, yang melalui kerja kerasnya, kita dapat mengkonsumsi nasi tiga kali dalam sehari.

Saya hidup di desa, berjarak kurang lebih 45 menit dari pusat kota. Depan rumah saya sawah, kampung saya dikelilingi sawah. Simbah saya pun petani, tapi baru kali ini saya benar-benar merasakan langsung bagaimana kerja keras seorang petani.

Lanjutkan membaca “Memanen Padi #235”

Seri Catatan Stase: Anestesi #233

Anestesi menjadi stase yang cukup berkesan karena dimulai saat covid-19 sudah mulai diumumkan kasusnya di Indonesia. Di mana, diskusi mengenai apakah koas diteruskan atau diberhentikan sementara, tetap ke rumah sakit atau belajar dari rumah, naik ke permukaan, yang tentunya berdampak pada banyak hal, termasuk apabila diundur akan berdampak pada memanjangnya waktu kelulusan dan apabila di rumah akan kehilangan kesempatan mendapatkan kompetensi, sementara bila tetap di rumah sakit, risiko paparan cukup tinggi, di samping ketersediaan APD yang terbatas.

Minggu pertama, kami masih mendapat orientasi materi dan jaga, meski 7 dari 13 orang di antara kami habis bepergian dari luar kota, termasuk 5 di antaranya dari Jakarta. Di akhir minggu pertama, tempat jaga dikurangi, mengingat risiko paparan yang cukup tinggi di beberapa tempat.

Lanjutkan membaca “Seri Catatan Stase: Anestesi #233”

Develop Yourself as A Whole Character #232

Sedari dulu hingga sekarang, saya beberapa kali mengalami benturan antara diri saya dengan lingkungan atau orang lain (yang mungkin sering teman-teman rasakan juga di kehidupan sehari-hari).

Bila dideskripsikan, barangkali saya akan tampak seperti orang yang lurus-lurus saja, yang menyikapi segala sesuatu sebagai hitam dan putih, seringkali serius bahkan untuk persoalan yang orang lain anggap tak penting, bisa jadi sukar diajak bercanda, cenderung diam di lingkungan baru, dan sering salah tingkah, mungkin bagi orang yang supel, saya bisa jadi dinilai kaku.

That is what come on my mind about me.

<!–more–>

Dan persepsi tentang diri saya itu, seringkali saya perdebatkan dalam diri saya, seperti…

Mengapa saya tak banyak bicara?

Mengapa saya tak mudah bergaul?

Mengapa saya tak supel?

Mengapa saya tak kreatif membuat bahan candaan?

Mengapa saya terlalu serius?

Mengapa saya terlalu pemikir?

Apakah saya terlalu banyak menggunakan otak kiri saya sehingga otak kanan saya kurang terpakai sehingga saya jadi orang yang tak kreatif?

Mengapa saya tak seperti dia yang mudah menyesuaikan diri dalam segala situasi?

Bahkan sampai pada pertanyaan, mengapa saya tak seceria anak lainnya?

Perdebatan ini bermula saat saya masih duduk di bangku SMA. Saat itu, teman-teman sudah mengenal saya sebagai pribadi yang cukup serius. Kadang teman saya berkata, “Ih, Ima nih ga bisa diajak bercanda.”

Seperti anak pada umumnya, saya cuek hehehe. Sampai saya membaca buku yang berhubungan dengan aktivasi otak kanan. Dari sanalah saya mulai berpikir, “Apakah saya terlalu banyak menggunakan otak kiri? Am I have to switch from a serious left brain person to become a creative right brain person?

Pada saat itulah saya mulai merasa iri pada teman-teman yang kreatif. Kreatif bercanda, berkarya, pandai menyesuaikan diri, ceria, dan seterusnya.

Setelah dipikir-pikir saat ini, saya merasa saat itu adalah saat di mana saya ‘terombang-ambing’ antara persepsi saya sendiri dan persepsi orang lain tentang: ‘bagaimana seharusnya karakter seseorang itu’.

Dan, sebuah peristiwa yang seakan memberikan legitimasi datang.

Di sebuah siang yang biasa-biasa saja, kebetulan saya mendapat giliran maju ke depan kelas, berbicara dalam bahasa Inggris (tentang apa saya lupa). Saat itu, bahasa Inggris saya masih cupu banget (sekarang juga belum bagus wkwkwk), jadi saya super nervous. Alhasil saya pun maju dan berbicara dalam bahasa Inggris, hasil dari menghafal sebelumnya.

Setelah selesai, saya kembali lagi duduk di bangku saya. Salah satu memori yang sampai bertahun kemudian tidak terlupakan adalah, guru saya saat itu berkata yang intinya kurang lebih berisi tentang: saya terlalu serius ketika berbicara di depan kelas.

Saat itu, rasanya seperti ada godam yang menghantam, memberikan legitimasi terhadap apa yang sudah teman-teman saya katakan kepada saya. Hal ini, semakin melempar saya pada sebuah kondisi keterombang-ambingan karakter di mana saya selalu bertanya, “Apakah salah bila saya serius? Apakah saya harus mengubahnya? Bagaimana cara mengubahnya? Ah, senangnya bila bisa jadi orang yang fleksibel.” Dan seterusnya, bahkan sampai secara tanpa sadar, saya menyalahkan diri saya yang serius wkwkwk.

Tentu saat itu saya belum bisa memilah dengan baik, maka situasi ini menjadi berkepanjangan, memberikan dampak yang cukup signifikan pada jiwa saya hehehe.

Bertahun kemudian, saya baru dapat mencerna. Mungkin yang dimaksudkan guru saya saat itu adalah apabila berdiri dan berbicara di depan banyak orang, kita pun harus belajar mengkomunikasikan apa yang kita ucapkan, bukan sekedar mengucapkan hafalan, karena bila hafalan saja, tak memberi kesempatan pada audien untuk mencerna. Tapi mungkin pemilihan katanya kurang tepat sehingga dampaknya justru melenceng jauh.

Nah, sebenarnya yang ingin saya bahas bukan hal ini. Cerita di atas adalah sebuah prolog.

Hal yang ingin saya bahas adalah bagaimana kita membentuk diri kita memiliki karakter yang utuh, utuh sebagai kamu, sebagai saya, sebagai masing-masing individu yang unik dengan caranya sendiri, individu yang berbeda dari orang lain.

Saat masa kepaniteraan klinik ini, saya memperhatikan karakter orang-orang dewasa di sekeliling saya. Mereka unik. Mereka berbeda. Dan mereka tidak sempurna.

Menurut saya, sebagai orang dewasa, penting bagi kita untuk memiliki pertahanan diri yang kuat. Pertahanan dari berbagai serangan yang mungkin sekali dilancarkan oleh orang-orang yang satu tempat kerja denganmu, musuhmu, atau ketika diuji oleh supervisormu. Tapi pertahanan diri yang kuat ini tidak akan bisa terbentuk kalo kamu belum memiliki ‘karakter yang utuh’, atau masih ‘terombang-ambing’ pada pertanyaan aku harus bagaimana?

Saat itulah, saat memasuki usia dewasa, secara tidak sadar masa ini memfiksasi diri kita, mendefinisikan diri kita, saya seperti apa?

Dan sepanjang saya memperhatikan, karakter itu tidak dapat disebut salah. Karena ia muncul akibat sebab lain, sebagai suatu respon terhadap suatu stimulus, hanya ‘setiap orang meresponnya dengan cara yang berbeda’ meski untuk mencapai tujuan yang sama.

Di sinilah saya berkesimpulan bahwa tak masalah menjadi orang yang serius, punya pemikiran macam-macam, suka menganalisis segala sesuatu.

Dengan menerima diri saya, saya tau betul di mana letak kelebihan dan kekurangan diri saya.

Dengan menerima diri saya, saya juga jadi lebih rileks dan hal ini justru membuat saya lebih mudah berkembang.

Dengan menerima diri saya, saya tau betul bahwa tiap pribadi itu unik dan berbeda, serta tak dapat disamakan satu sama lain.

Dengan menerima diri saya, saya tau betul bahwa saya tak dapat bekerja sendiri, saya butuh tim, dengan karakter-karakter lain yang saling mengisi, sehingga tujuan dapat tercapai.

Dengan menerima diri saya, saya dapat lebih fokus untuk mengoptimalkan apa yang menjadi kekuatan saya.

Sejujurnya, mungkin bukan tidak bisa bercanda. Barangkali saya hanya membutuhkan partner bicara serta timing yang tepat agar bisa membuat orang lain tertawa. Juga mungkin membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama dan tingkat keakraban yang lebih tinggi agar bisa bercanda, hehehe 😂

Kembali lagi bahwa setiap orang itu unik, berbeda, dan tidak sempurna. You’re not perfect and that’s okay.

Ini adalah keseluruhan dirimu. Karaktermu utuh, justru dengan ketidaksempurnaanmu. Tak masalah bila masih perlu waktu untuk menerimanya. Peluk diri sendiri dan katakan: terima kasih dan aku mencintaimu ❤

Seri Catatan Stase: Ilmu Bedah #231

Kembali lagi bersama seri catatan stase, kali ini adalah stase ilmu bedah yang alhamdulillah sudah selesai kemarin tanggal 7 Maret 2020.

Bedah memberikan pengalaman tersendiri yang tak terlupakan. Selain karena stase besar (2,5 bulan), materinya juga luar biasa (banyak, detail, dan susah (?)), dokternya pinter-pinter, dan skill dokternya juga keren-keren T.T, memberikan kesan tersendiri.

Lanjutkan membaca “Seri Catatan Stase: Ilmu Bedah #231”

Stay at Home: Quality Time with Family #230

Ada sebuah rahasia yang ingin saya ungkapkan tentang bagaimana Bapak memberikan pengaruh besar dalam kehidupan saya. Apa rahasianya? Rahasianya sederhana, Bapak sering mengobrol dengan saya ketika Bapak ada di rumah.

Seperti yang sudah pernah saya tulis dalam tulisan saya yang lain, Bapak adalah seorang pelaut. Jarang sekali ada di rumah. Pulang ke rumah paling cepat 3 bulan sekali dan paling lama 1 tahun sekali, pernah sekali waktu 1,5 tahun baru pulang. Tapi, saya tidak pernah merasa kekurangan sosok Ayah dalam hidup saya. Kenapa? Karena Bapak selalu menyediakan waktu (bukan hanya menyempatkan, tapi menyediakan waktu) untuk quality time (mengobrol, bertukar pikiran) dengan saya. Obrolan bisa berlangsung hingga beberapa jam, kadang bisa sampai 3 jam lamanya.

Lanjutkan membaca “Stay at Home: Quality Time with Family #230”