Sepucuk Surat Untuk Hujan #156

Malam itu pukul sebelas, hujan turun semakin deras seakan sengaja ingin bersua dengan Riani. Petir dan kilat menggelegar berkali-kali. Ranting-ranting pohon berayun ke sana ke mari mengikuti arah angin, bertahan agar tidak patah. Riani duduk di kursi belajarnya, menyalakan lampu kecil lantas mengambil secarik kertas dan sebuah pena. Ia akan menulis sepucuk surat untuk hujan malam ini. Semoga hujan berbaik hati mendengar ceritanya. Riani tersenyum menatap kertasnya lantas segera menuliskan suratnya. Begini goresan pena Riani menuliskan ceritanya:

Dear Rain,
Continue reading “Sepucuk Surat Untuk Hujan #156”

Iklan

Kisah Ucil Si Cacing Kecil #155

Kali ini, aku ingin berbagi kisah. Sebuah kisah sederhana, tak terlampau istimewa, namun begitu berharga. Ini kisah tentang seekor cacing yang suka mematut dirinya di depan cermin. Ucil, begitulah cacing itu dipanggil. Ia tinggal di sebuah kebun penuh bunga warna-warni. Setiap hari, ia memperhatikan banyak kupu-kupu yang hilir mudik menghampiri bunga-bunga, juga lebah yang sibuk mengumpulkan madu. Ah, betapa irinya ia.

Melihat kupu-kupu mengepakkan sayapnya yang indah, ia pun berandai-andai, “Andaikan aku punya sayap, aku pasti bisa terbang ke manapun aku ingin, aku bisa menjangkau bunga-bunga yang indah itu.” Begitu angan Ucil si cacing kecil setiap kali ia melihat kupu-kupu.

Continue reading “Kisah Ucil Si Cacing Kecil #155”

Riani dan Kumpulan Pertanyaan #154

Sore itu, seperti biasa langit menunjukkan konspirasinya. Awan tebal mengungkung di angkasa, angin berhembus pelan, cukup menggerakkan dedaunan di halaman rumah hingga suara gemerisiknya membuat bulu kuduk merinding. Sore itu hari Sabtu dan Riani serta ketiga anggota empat sekawan lainnya sempurna berada di rumah. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Seperti biasa jika cuaca seperti ini, Riani memilih keluar ke teras rumah, menghirup udara dalam-dalam ditemani segelas minuman hangat dan gawainya. Oci, lagi-lagi mengekor kakaknya, ikut keluar teras sembari menggendong boneka beruangnya. Ia sudah kelas 2 SD tahun ini, entah kapan ia akan mulai melepas bonekanya satu persatu. Ia terlalu sayang.
Continue reading “Riani dan Kumpulan Pertanyaan #154”

Eno, Iyan, Iki, dan Oci #152

Kami empat serangkai: Eno, Iyan, Iki, dan Oci. Jangan kaget ya, Riani ini dipanggil Iyan saat ada di rumah. Eno abangnya, Riani serta Iki dan Oci, kedua adiknya, suka sekali menyebut diri mereka empat serangkai. Empat serangkai yang saling melengkapi satu sama lain. Bang Eno, anak pertama, panutan adik-adiknya dalam segala hal, sekaligus objek kejahilan ketiga adiknya. Iki, anak Ayah yang paling bandel, tapi ternyata punya bakat tersembunyi yang tak pernah diketahuinya. Oci, si bungsu penyuka boneka yang suka sekali bercerita. Sementara Riani sendiri, si pengamat yang suka berfilosofi tentang kehidupan. Mereka berempat inilah yang menghidupkan suasana rumah saat Ayah bekerja di luar kota. Yah, meskipun lebih banyak karena mereka beradu pendapat satu sama lain. Continue reading “Eno, Iyan, Iki, dan Oci #152”

Mbak Ikha dan Balasan Surat Terbuka #151

Assalamu ‘alaikum, Mbak Ikha. Bagaimana kabarnya? Semoga Mbak Ikha sehat-sehat saja setelah kemarin bepergian lagi. Alhamdulillah Ima sehat-sehat juga di sini. Terima kasih banyak atas surat terbuka yang sudah dikirim oleh Mbak Ikha beberapa waktu yang lalu (tiba-tiba jadi merasa tersipu #alaymodeon, maap ya, Mbak hehehe).

Terima kasih juga telah menjadikan kota Jogja sebagai salah satu dari tiga kota yang memiliki tempat khusus di hati Mbak Ikha. Sebagai orang Bantul yang sering membelah kota Jogja menuju Sleman, saya setuju dengan Mbak Ikha. Jogja itu romantis. Udaranya, langitnya, lampu-lampu jalanannya, bahkan rintik hujannya pun romantis. Saya kadang kalo pengen liburan tapi ga kesampaian, sukanya lewat jalan tengah-tengah Malioboro trus liat kanan kiri. Melihat banyak orang berwisata ditambah penataan Malioboro yang semakin tertata dan menarik, saya jadi berasa ikut berwisata juga wkwkwk. Akhirnya kekangenan akan liburan pun terobati. Continue reading “Mbak Ikha dan Balasan Surat Terbuka #151”

Bersama Hujan [Part 2] #150

Kali ini masih dengan cerita yang sama, bersama hujan. Hujan yang iramanya terkadang menandakan perasaan yang tersembunyi di dalam hati. Hujan deras, ah lihatlah alam pun ikut bersedih bersama kita. Hujan rintik-rintik, ah lihatlah betapa romantisnya butiran hujan memendarkan cahaya lampu pinggiran kota dan seketika itu seulas senyum pun terbentuk di bibir kita. Siapa pula yang tahu senyum itu? Ah, barangkali hanya hujan yang memahaminya. Sama pula hal itu berlaku untuk Riani. Ada kalanya hujan deras bertepatan dengan suasana hatinya yang sedang tidak baik. Pun ada kalanya hujan rintik bertepatan dengan suasana hatinya yang sedang ‘mencoba’ romantis. Terkadang. Hanya kadang saja sihContinue reading “Bersama Hujan [Part 2] #150”