Serba-Serbi Anak Kedokteran #191

Terinspirasi dari banyaknya mitos yang berkembang tentang anak kedokteran, kali ini saya coba membuat tulisan tentang ‘Serba-Serbi Anak Kedokteran’ untuk menjawab berbagai pertanyaan dan anggapan yang beredar serta apakah mitos-mitos tersebut ‘fitnah atau fakta?’ (pake gaya Mbak Fenny Rose di acara Rumpi).

Continue reading “Serba-Serbi Anak Kedokteran #191”

Iklan

Niat Baik #190

‘Niat’, perkara paling tersembunyi dari setiap orang. ‘Baik’, parameter yang sulit diukur karena bagi A baik, bagi B bisa jadi sebaliknya atau dalam situasi A baik, di situasi B sebaliknya. Seseorang yang berniat baik, akankah selalu berhasil baik, tersampaikan dengan baik, diterima dengan baik? Jawabannya, belum tentu.

Niat yang baik, bisa berbuah baik, pun juga bisa berbuah hal yang tidak menyenangkan. Niat baik yang disampaikan dengan cara yang kurang tepat, maka hasilnya pun bisa jadi tidak baik. Niat baik juga bisa disalahartikan. Ada perbedaan persepsi, membuat niat baik tidak tersampaikan dengan baik. Akibatnya, justru sebaliknya, niat baik sama sekali tak tersampaikan, karena yang memberi dan diberi tak satu frekuensi. Situasi lain yang cukup ekstrem adalah ketika kita berniat baik namun sebenarnya orang itu tidak membutuhkan niat baik tersebut. Hal ini bisa berujung pada kesalahpahaman salah satu pihak.

Situasi dan keadaan juga berperan. Bisa jadi seseorang berniat baik, tapi situasi dan kondisi tak tepat sesuai perkiraannya. Inilah hal yang barangkali di luar kendali manusia.

Maka, jangan pula kecewa jika kita berniat baik namun niat kita tak sampai diterima dengan baik. Evaluasi terlebih dahulu. Apakah cara yang kita lakukan kurang tepat? Adakah cara yang lebih baik? Apakah kita tak satu frekuensi? Lantas, bagaimana menyamakan frekuensi? Kemudian, adakah faktor-faktor x yang berada di luar kendali kita?

Belajar menerima bahwa tak setiap niat baik diterima dengan baik, sama halnya dengan belajar bahwa kita tak bisa memaksakan pendapat kita pada orang lain.

Bagi kita barangkali niat itu baik, tapi bagi orang lain tidak, atau bisa jadi tidak dibutuhkan. Kita bisa memberikan pendapat, argumen, atau apapun itu, tapi jika itu diniatkan sebagai sebuah ‘niat baik’ untuk menjembatani permasalahan, jangan pula kecewa jika berakhir tak sesuai harapan.

Berniat baik adalah bagian dari usaha. Maka, jangan pula menghilangkannya. Pelihara niat baik, perbaiki cara menyampaikannya, coba untuk samakan frekuensi, tempatkan diri sesuai dengan posisi, dan berserah pada Allah SWT terkait apa-apa saja yang akan terjadi. Bukankah semua sudah diatur oleh-Nya?

Perlu juga taktik dan strategi supaya niat baik ini tidak disalahartikan. Ada batasan-batasan yang perlu kita ketahui. Belajar untuk menempatkan diri dan belajar untuk tegas mengambil keputusan adalah bagian tak terpisahkan dari taktik dan strategi. Maka dalam situasi apapun, sedang dalam niat baik yang bagaimanapun, dua hal di atas agar jangan sampai terlupakan.

Akhir kata, jangan pernah menyesal jika kita pernah berniat baik, namun tak tersampaikan dengan baik. Atau jika kita berniat baik, namun masih belum tepat dalam menyampaikannya atau tidak tepat situasinya. Mengutip RM BTS dalam salah satu pidatonya di UNICEF, “And maybe I made a mistake yesterday, but yesterday’s me is still me. Today, I am who I am with all of my faults and my mistakes. Tomorrow I might be a tiny bit wiser and that would be me too. These faults and mistakes are what I am making up the brightest stars in the constellation of my life.”

Culture Shock #189

Culture shock dimaknai sebagai rasa tidak familier dengan lingkungan yang baru, lingkungan yang berbeda dengan yang sering kita hadapi sebelumnya. Biasanya terjadi jika kita berpindah tempat cukup jauh, misalnya dari Sumatra ke Jawa, atau Jawa ke Kalimantan, atau Papua ke Jawa, dst. Bisa juga jika kita bepergian ke negara lain yang memiliki budaya yang jauh berbeda.

Bagi para perantau, mungkin banyak yang merasakan hal ini, tapi berhubung saya belum pernah merantau jauh dan hanya mendengarkan cerita-cerita teman, barangkali saya belum pernah benar-benar merasakan culture shock yang cukup besar. Meski uniknya, belakangan ini saya merasakan culture shock, justru dari lingkungan rumah saya sendiri: Bantul.

Continue reading “Culture Shock #189”

The Worst Scenario #188

Sebelumnya, saya sudah menuliskan opini saya mengenai pernikahan di sini. Kali ini, saya ingin melanjutkan beberapa hal yang sering banget luput diperhatikan orang. Jeng jeng jeng… Apa itu?

Persiapan mental menghadapi pernikahan.

Dah itu aja.

Masih bingung? Saya juga. Kalimat itu abstrak banget… kalo ndak dikasih contoh.

Orang bisa saja mengklaim, saya sudah siap secara mental. Tapi, eits, tunggu dulu. Sudah liat contohnya? Tau masalah seperti apa yang mungkin akan dihadapi? Sudahkah tau apa saja worst scenario yang mungkin terjadi?

Continue reading “The Worst Scenario #188”

Mindfulness #187

Kali ini saya akan membahas topik mengenai mindfulness, yang berdasarkan beberapa sumber, diartikan sebagai keadaan di mana pikiran dan raga berada pada satu tempat yang sama. Lebih mudahnya, kita tidak sedang dalam kondisi mindfulness jika kita ada di suatu tempat, tapi pikiran kita ada di tempat lain. Kita tidak fokus pada apa yang ada di hadapan kita.

Saya pertama kali mengenal istilah mindfulness saat membaca buku The 7 Laws of Happiness karya Arvan Pradiansyah yang sudah pernah saya tulis review-nya di sini. Saat itu, saya belum benar-benar memahami apa itu mindfulness, meski sudah membaca definisi dan contohnya di buku tersebut.

Continue reading “Mindfulness #187”

Potensi dan Grand Design #186

Beberapa waktu yang lalu, salah satu teman saya, Mbak Nurul, mengunggah status yang cukup menarik. Unggahan tersebut berisi pernyataan dari Jack Ma, yaitu:

Pernyataan Jack Ma ini menggelitik, karena mengingatkan saya pada pernyataan Bapak, meski mungkin bunyinya tidak persis sama. Saat SMP dulu dibuka kelas akselerasi, Bapak berkata, “Ndak usah masuk kelas akselerasi. Kamu tumbuh sesuai usiamu saja. Kalo kamu masuk kelas akselerasi, kamu akan kehilangan kesempatan belajar keahlian-keahlian lainnya.”

Continue reading “Potensi dan Grand Design #186”

Astha Brata #185

Astha brata berasal dari kata hastha yang berarti delapan dan brata yang berarti perbuatan . Astha brata merupakan delapan kumpulan sifat yang diambil dari alam, sebagai contoh (tuladha) bagi para pemimpin, disampaikan dalam cerita pewayangan melalui tokoh Arjuna yang diberi wahyu Makutha Rama yang berisi ajaran ‘Astha Brata’. Apa saja sifat-sifat dalam ajaran astha brata tersebut?

Continue reading “Astha Brata #185”