All About UKT (Uang Kuliah Tunggal) #196

Kali ini saya ingin menuliskan catatan mengenai UKT (Uang Kuliah Tunggal). Informasi ini penting banget untuk adek-adek yang akan masuk ke dunia perkuliahan atau sedang berkuliah, juga orang tua/wali yang anak-anaknya akan atau sedang menempuh kuliah, karena pengetahuan menyeluruh tentang UKT akan membantu para mahasiswa untuk survive selama kuliah.

Pertama, saya akan menjelaskan mengenai UKT terlebih dahulu. UKT merupakan kependekan dari Uang Kuliah Tunggal, yang merupakan jumlah total biaya yang dibayarkan oleh mahasiswa dalam satu semester, yang sudah mencakup biaya seluruh kegiatan di semester tersebut (kuliah, praktikum, dll), tanpa memperhitungkan jumlah SKS yang diambil oleh mahasiswa tersebut. Jadi, berapapun jumlah SKS yang diambil, UKT yang dibayarkan tetap sama, karena biaya kuliah tidak dihitung per SKS.

Continue reading “All About UKT (Uang Kuliah Tunggal) #196”

Iklan

Catatan Akhir Tahun | Keluar dari Zona Nyaman, Sudah Tercapaikah? #195

Membuka catatan lama di awal tahun, sebuah resolusi di tahun 2018 yang berada di urutan #136 yaitu Keluar dari Zona Nyaman. Di catatan itu, tertulis bahwa saya akan melakukan hal-hal baru, mengubah kebiasaan, melakukan hal-hal yang tidak disukai, dan menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi untuk keluar dari zona nyaman.

Waktu itu niatnya, ke empat hal tersebut dituliskan, jadi bisa dibaca di akhir tahun sebagai refleksi. Tapi ternyata, hanya bertahan di beberapa bulan awal saja hehehe. Meski begitu, karena ternyata ga begitu banyak hal yang saya lakukan, saya masih mengingat hal-hal apa saja yang masuk dalam ke empat kriteria tersebut.

Continue reading “Catatan Akhir Tahun | Keluar dari Zona Nyaman, Sudah Tercapaikah? #195”

Menolak #194

Suatu siang menjelang sore, beberapa bulan yang lalu, ada sebuah percakapan random dengan teman saya.

Teman saya tiba-tiba nyeletuk, “Eh, jahat banget ceweknya, masa orang sebaik dia ditolak.”

Lantas saya terdiam sepersekian detik lalu ikutan nyeletuk juga,

“Eh, kok (menurut kamu) jahat sih?… Iya sih orang itu baik, tapi tiap orang bukannya punya preferensi masing-masing? Apakah menolak sama dengan menjahati?”

Continue reading “Menolak #194”

Beranjak Bertambah Usia #193

Saat kecil, kita berselisih karena hal-hal sederhana, namun kita kembali berdamai dengan sederhana pula. Beranjak remaja, mulai ada riak-riak yang lebih besar, kadangkala butuh waktu sedikit lebih lama untuk sekedar berdamai. Kala itu, aku banyak melihat orang-orang dewasa bertikai. Sesederhana di warung, dalam keseharian, hingga di panggung-panggung yang lebih besar. Lantas aku pun bertanya, benarkah semakin beranjak dewasa, semakin bertambahnya usia maka semakin banyak perselisihan dan pertikaian? Lalu, di manakah kesederhanaan berdamai tatkala kecil dulu? Tenggelam oleh apakah?

Continue reading “Beranjak Bertambah Usia #193”

Jalan-Jalan Sore Bareng Nahda #192

Saat itu siang menjelang sore, kebetulan saya dan adik saya sudah sampai di rumah sebelum matahari beranjak turun. Karena di rumah tidak ada orang, kamipun pergi ke rumah Simbah yang jaraknya tak seberapa jauh, dan ulalaaa… ada Nahda di sana 😍 yang lagi dibujuk-bujuk sama Ibuknya buat pulang tapi ga mau.

“Nahda, pulang yuk.”

“Engga.”

“Nahda pulang yaa??”

“Engga!”

“Ibuk pulang?”

“Iya.”

Continue reading “Jalan-Jalan Sore Bareng Nahda #192”

Niat Baik #190

‘Niat’, perkara paling tersembunyi dari setiap orang. ‘Baik’, parameter yang sulit diukur karena bagi A baik, bagi B bisa jadi sebaliknya atau dalam situasi A baik, di situasi B sebaliknya. Seseorang yang berniat baik, akankah selalu berhasil baik, tersampaikan dengan baik, diterima dengan baik? Jawabannya, belum tentu.

Niat yang baik, bisa berbuah baik, pun juga bisa berbuah hal yang tidak menyenangkan. Niat baik yang disampaikan dengan cara yang kurang tepat, maka hasilnya pun bisa jadi tidak baik. Niat baik juga bisa disalahartikan. Ada perbedaan persepsi, membuat niat baik tidak tersampaikan dengan baik. Akibatnya, justru sebaliknya, niat baik sama sekali tak tersampaikan, karena yang memberi dan diberi tak satu frekuensi. Situasi lain yang cukup ekstrem adalah ketika kita berniat baik namun sebenarnya orang itu tidak membutuhkan niat baik tersebut. Hal ini bisa berujung pada kesalahpahaman salah satu pihak.

Situasi dan keadaan juga berperan. Bisa jadi seseorang berniat baik, tapi situasi dan kondisi tak tepat sesuai perkiraannya. Inilah hal yang barangkali di luar kendali manusia.

Maka, jangan pula kecewa jika kita berniat baik namun niat kita tak sampai diterima dengan baik. Evaluasi terlebih dahulu. Apakah cara yang kita lakukan kurang tepat? Adakah cara yang lebih baik? Apakah kita tak satu frekuensi? Lantas, bagaimana menyamakan frekuensi? Kemudian, adakah faktor-faktor x yang berada di luar kendali kita?

Belajar menerima bahwa tak setiap niat baik diterima dengan baik, sama halnya dengan belajar bahwa kita tak bisa memaksakan pendapat kita pada orang lain.

Bagi kita barangkali niat itu baik, tapi bagi orang lain tidak, atau bisa jadi tidak dibutuhkan. Kita bisa memberikan pendapat, argumen, atau apapun itu, tapi jika itu diniatkan sebagai sebuah ‘niat baik’ untuk menjembatani permasalahan, jangan pula kecewa jika berakhir tak sesuai harapan.

Berniat baik adalah bagian dari usaha. Maka, jangan pula menghilangkannya. Pelihara niat baik, perbaiki cara menyampaikannya, coba untuk samakan frekuensi, tempatkan diri sesuai dengan posisi, dan berserah pada Allah SWT terkait apa-apa saja yang akan terjadi. Bukankah semua sudah diatur oleh-Nya?

Perlu juga taktik dan strategi supaya niat baik ini tidak disalahartikan. Ada batasan-batasan yang perlu kita ketahui. Belajar untuk menempatkan diri dan belajar untuk tegas mengambil keputusan adalah bagian tak terpisahkan dari taktik dan strategi. Maka dalam situasi apapun, sedang dalam niat baik yang bagaimanapun, dua hal di atas agar jangan sampai terlupakan.

Akhir kata, jangan pernah menyesal jika kita pernah berniat baik, namun tak tersampaikan dengan baik. Atau jika kita berniat baik, namun masih belum tepat dalam menyampaikannya atau tidak tepat situasinya. Mengutip RM BTS dalam salah satu pidatonya di UNICEF, “And maybe I made a mistake yesterday, but yesterday’s me is still me. Today, I am who I am with all of my faults and my mistakes. Tomorrow I might be a tiny bit wiser and that would be me too. These faults and mistakes are what I am making up the brightest stars in the constellation of my life.”